Menengok Potensi Keuntungan Bisnis Karbon

Menengok Potensi Keuntungan Bisnis Karbon
Ilustrasi perdagangan karbon

Listrik Indonesia | Pada Rabu, 27 September 2023, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, secara resmi meresmikan perdagangan karbon. Peresmian ini diadakan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlokasi di Jakarta, menandai langkah penting dalam upaya Indonesia untuk melindungi lingkungan.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti, potensi perdagangan karbon di Indonesia diperkirakan mencapai ribuan triliun rupiah. Hutan dan ekosistem mangrove adalah penyumbang terbesar dalam perdagangan karbon, masing-masing menyumbang sekitar Rp2.333 triliun, diikuti oleh tanaman gambut sebesar Rp1.134 triliun, dan tumbuhan seagrass sebesar Rp100 triliun.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa harga karbon bervariasi tergantung pada proyek perusahaan. Ini menciptakan peluang bagi perusahaan untuk berpartisipasi dalam perdagangan karbon dan berkontribusi pada perlindungan lingkungan.

Perdagangan Karbon dan Teknologi CCUS

Perdagangan karbon merupaka salah satu cara untuk menggalakkan upaya dalam mengatasi perubahan iklim. Teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) merupakan inovasi yang berfungsi untuk menangkap emisi karbon yang dihasilkan oleh industri dan pembangkit listrik. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk mengurangi emisi karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Salah satu perusahaan yang telah mengimplementasikan teknologi CCUS adalah PT Pertamina. Mereka telah menggunakan teknologi CCUS sejak tahun 2022 sebagai bagian dari upaya mereka dalam mendukung dekarbonisasi. SVP Research & Technology Innovation Pertamina, Oki Muraza, menjelaskan bahwa CCUS dapat menciptakan peluang bisnis hijau.

Emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas produksi dapat dimanfaatkan dengan cara digunakan kembali untuk memproduksi berbagai barang. Sebagai contoh, Precipitated Calcium Carbonate (PCC) dapat dihasilkan dari emisi karbon dan digunakan dalam pembuatan kertas dan cat.

"Kita berhasil menggunakannya untuk memproduksi sebuah produk. Masih ada inovasi lain yang ada dalam pipelin kami, seperti produksi alkohol, polimer, dan banyak lagi," ungkap Oki Muraza.

Dengan peresmian perdagangan karbon dan adopsi teknologi CCUS, Indonesia berada dalam posisi yang lebih baik untuk melindungi lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim, sambil membuka peluang bisnis hijau yang berkelanjutan. Hal ini adalah langkah penting menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi negara kita. (Ahmad Dwi)

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

Berita Lainnya

Index